How To be Prestisius????
How To be Prestisius????
Sering kali, dalam keseharian kita rutinitas seakn seperti mesin waktu yang siap meledak dimana dinamika kehidupan sedang berpacu dan melaju dengan cepat hingga arusnya makin menjauh entah kemana arahnya dan hingga mesin waktu dalam otak berkata ‘ooo ternyata kita sudah mendekati minus dan sebentar lagi mesin waktunya akan meledak dan menghujani tubuh kita’, hingga kita sadar ‘oh Tuhan betapa berartinya sebuah kesabaran buat kita’.
Sekarang bukan lagi ukuran meledaknya mesin waktu dalam tubuh kita, tapi mampukah kita menyeimbangkan antara dinamika dan keseimbangan dalam hidup kita, rasanya berbuat seprofesioanl apapun bukanlah arti sebuah kesuksesan dan ukuran ratusan dolar ditangan kita, namun mamapukah kita mengukur semua upaya yang telah kita lakukan sama dengan apa yang kita hasilkan dan buakn saja hanya diukur dari berapa jumlah barang yang telah kita miliki sekrang dan jumlah tabungan yang ada di rekening kita saat ini, sering kali selain uang orang menjadi prestius sebagai sebuah ukuran kenberhasilan.
Di beberapa kesempatan, orang sering menilai saya hidup selalu dengan kesenangan, keadaan dimana saya sering meneriakan kemerdekaan bersikap, sebagian teman dekat menilai saya adalah orang yang jauh dari kesedihan dan kejenuhan padahal saya juga sering menangis sendiri dikala malam menjelang entah tentang sesuatu hal atau beberapa hal yang sering terjadi dalam keseharian.
Seorang sahabat mengundang saya pada sebuah perjamuan pernikahan yang lumayan prestisius di kota Batam, saya tahu benar bahwa dalam acara tersebut tamu yang hadir adalah orang-orang ‘penting’ di kota Batam, namun yang menarik adalah aroma prestisius yang terkadang seperti hal yang ‘berlebhan’, namun itulah hidup semua ‘diukur’ dari bagaimana kita bersikap dan yang ada dalam diri kita saat ini.
Sadar atau tidak sadar itulah hidup, memburu sebuah cita-cita dengan iming-iming perbaikan masa depan adalah hal yang paling ‘mulia’ saat ini, tapi kita kurang menyadari bahwa essensi batin kita juga membutuhkan ‘suplement’ ketika ibadah terkadang hanyalah sebuah ‘rutinitas’ lalu bagaiaman cara kita membekali hidup kita untuk mendapat keseimbangan Yin and Yang, kerap kali diucapkan dalam filosofi china itu.
Untuk itu saya memilih duduk di depan monitor warnet, menghisap rokok dan menikamti jazz di telinga saya. Buat saya ini indah, sementara saya sedang mencari ketenangan yang saya butuh dalam upaya mengganti seluruh energi dan pikiran yang banyak saya habiskan di kantor.